Ringankan Duka di Sangihe: Aksi Nyata Christiany Paruntu Menyapa Warga Perbatasan Indonesia

SANGIHE, ObjekBerita.id — Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, beberapa waktu lalu, memicu kerusakan masif di wilayah perbatasan utara Indonesia.

Salah satu titik terdampak paling parah adalah Pulau Kawio, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Di tengah keterisolasian geografis dan lumpuhnya akses, bantuan kemanusiaan dari Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Christiany Eugenia Paruntu (CEP), akhirnya berhasil menembus wilayah perbatasan demi meringankan beban warga yang terdampak.

Sekretaris Desa Kawio, Risto Mandiangan, mengungkapkan bahwa guncangan gempa telah melumpuhkan permukiman mereka.

Infrastruktur di pulau terluar tersebut dilaporkan mengalami kerusakan hingga 90%.

“Untuk di pulau kami, rusak berat, hancur. Mayoritas rumah warga rata dengan tanah. Tapi puji Tuhan tidak ada korban jiwa, karena pada saat gempa semua warga langsung keluar ke area terbuka, jalanan dan lapangan,” ujar Risto saat ditemui oleh tim penyalur bantuan pada Minggu (5/7/2026).

Risto menambahkan, posisi geografis Pulau Kawio yang berbatasan langsung dengan Filipina menjadi tantangan besar dalam proses pemulihan.

Jarak tempuh laut yang jauh serta ancaman cuaca ekstrem kerap kali menghambat distribusi logistik dari pusat Kabupaten Sangihe.

Keterlambatan bantuan yang biasa dialami warga perbatasan kali ini terobati melalui program aksi cepat “CEP Peduli”. Ribuan paket sembako dan kebutuhan dasar disalurkan langsung ke tiga pulau terluar di Sangihe, yaitu Pulau Kawio, Pulau Marore dan Pulau Matutuang.

Hukum Tua (Opo Lao) Desa Marore, Bennihutman Petrus Barahama, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan oleh CEP.

Menurutnya, aksi nyata ini sangat berarti bagi masyarakat perbatasan yang kerap merasa terisolasi.

“Kami di wilayah perbatasan sering terlambat dapat bantuan. Kali ini masyarakat Desa Marore merasa diperhatikan. Terima kasih Ibu CEP,” ungkap Bennihutman.

Senada dengan pemerintah desa, Sasiang Kuhanta, salah seorang warga penerima manfaat, tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya di tengah kondisi mata pencaharian warga yang lumpuh sementara.

“Kami hanya bisa berdoa dan bekerja. Terima kasih Ibu CEP, terima kasih karena sudah datang sejauh ini untuk kami,” tuturnya haru.

Bagi masyarakat setempat, kehadiran bantuan ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan bukti nyata bahwa negara—melalui wakil rakyatnya—hadir dan tidak melupakan warga di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Bencana ini menjadi pengingat penting bahwa ketahanan nasional juga diuji dari titik-titik terluar Indonesia.

Kini, dengan hancurnya ratusan tempat tinggal, warga menaruh harapan besar agar pemerintah pusat dan daerah dapat segera bersinergi untuk membangun kembali permukiman yang layak dan ramah gempa di beranda utara Nusantara.

TamuraWatung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *