Manado – Objekberita.id – Di tengah riuhnya dinamika politik dan kebijakan publik yang setiap hari saya temui di kursi DPD – MPR RI, ada satu momen yang selalu memaksa langkah saya untuk melambat: Hari Ibu. Namun, bagi saya, “Ibu” bukan sekadar status sipil dalam kartu keluarga atau sebutan bagi mereka yang telah melewati proses persalinan. Ibu adalah sebuah terminologi spiritual. Ia adalah manifestasi dari kasih tanpa batas yang mampu menembus sekat-sekat perbedaan.
Cahaya di Tengah Kegelapan Intoleransi
Hari-hari ini, kita sering menyaksikan bangsa kita diuji oleh awan mendung intoleransi dan percikan konflik SARA yang melelahkan. Di titik inilah, esensi keibuan menjadi krusial. Ibu adalah “hati yang bersinar”—sebuah lentera yang mampu menerangi kekelaman kebencian. Dalam rahim kasih sayang seorang Ibu, tidak ada tempat bagi prasangka. Seorang Ibu mengajarkan bahwa perbedaan warna kulit, suku, atau keyakinan bukanlah alasan untuk saling menghancurkan, melainkan warna-warni yang memperkaya tenun kebangsaan. Ketika dunia luar terasa gelap karena egoisme kelompok, pelukan Ibu—baik secara fisik maupun nilai—menjadi oase kedamaian yang mendinginkan suhu konflik.
Melampaui Ikatan Biologis: Belajar dari Bunda Teresa
Kita perlu meredefinisi makna “Ibu”. Seringkali masyarakat terjebak dalam stigma bahwa seorang perempuan barulah dianggap utuh sebagai Ibu jika ia telah menikah dan melahirkan secara biologis. Pandangan ini perlu kita luruskan. Mari kita menengok sejarah kemanusiaan pada sosok Bunda Teresa dari Kalkuta. Beliau tidak pernah menikah, tidak pernah melahirkan dari rahimnya sendiri, namun seluruh dunia memanggilnya “Ibu”. Mengapa? Karena ia memberikan hidupnya untuk merawat mereka yang terbuang, mencintai mereka yang tak dicintai, dan menjadi sandaran bagi mereka yang kehilangan harapan. Ibu adalah sebuah kata kerja (action), bukan sekadar kata benda (noun). Setiap perempuan yang memiliki rahim sosial—mereka yang mendidik, mengayomi, dan memperjuangkan kemanusiaan—adalah Ibu bagi bangsa ini.
Poros Terdepan Generasi Emas
Sebagai seorang Senator, saya menyadari bahwa kebijakan negara sehebat apa pun tidak akan pernah cukup tanpa peran perempuan sebagai poros utama. Di tangan para Ibu, masa depan Indonesia diletakkan. Ibu adalah pendidik pertama dan utama. Di tangan merekalah karakter “Generasi Emas” dibentuk. Bukan hanya generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi generasi yang memiliki resiliensi moral, empati yang tinggi, dan semangat persatuan. Jika Ibu adalah porosnya, maka bangsa ini memiliki kompas yang jelas untuk melangkah menuju kejayaan.

Pada momentum Hari Ibu ini, mari kita rayakan cinta yang melampaui batas-batas biologis dan sektarian. Mari kita jadikan nilai-nilai keibuan—kasih, pengorbanan, dan inklusivitas—sebagai fondasi dalam berbangsa. Karena di dalam hati seorang Ibu yang bersinar, kegelapan intoleransi akan selalu menemukan jalan untuk sirna.
Catatan Refleksi hari ibu Oleh Senator DR. Maya Rumantir., MA,. Ph.D,
(HenceKaramoy)







