Kesempurnaan Kasih dalam Kesederhanaan

Renungan185 Views

Kasih Setia TUHAN yang Tersembunyi dalam Kesederhanaan”

Nats Pembimbing: Mazmur 139:7-10 & Yesaya 55:8-9

  1. Seringkali kita mencari Tuhan dalam guntur yang menggelegar atau mujizat yang membelah laut merah.

Kita menunggu sesuatu yang spektakuler—seperti promosi jabatan tiba-tiba, kesembuhan instan, atau pemulihan ekonomi yang drastis—sebagai bukti bahwa Tuhan mengasihi kita.

Namun, Saudara yang dikasihi Tuhan, kasih setia Tuhan seringkali bekerja dalam “hening”. Ia tidak selalu terlihat oleh mata jasmani, tidak selalu terpahami oleh logika manusia, namun Ia benar-benar ada dan nyata dalam hal-hal yang paling sederhana.

Saya menguraikan dalam tiga pengertian:

1. Pikiran-Nya Bukan Pikiran Kita (Ketidakpahaman Kita)

Dalam Yesaya 55:8-9, Tuhan menegaskan bahwa rancangan-Nya jauh lebih tinggi dari rancangan kita. Saat kita merasa Tuhan “diam,” sebenarnya Ia sedang bekerja di balik layar.

Logika Kita: Berpikir bahwa berkat Tuhan hanya ada saat hidup berjalan mulus.

Kenyataan Tuhan: Terkadang kasih setia-Nya dinyatakan melalui “hambatan” yang menjauhkan kita dari bahaya yang tidak kita ketahui.

2. Kasih dalam Hal-hal Sederhana (Bukan Hanya yang Spektakuler)

Kita sering melewatkan kehadiran Tuhan karena kita terlalu sibuk mencari yang luar biasa. Padahal, kasih setia Tuhan adalah “napas” harian kita. Kesehatan yang terjaga, keluarga dan sahabat, penyertaan di jalan saat berkendara atau saat menyeberang jalan, kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, atau bahkan senyuman seorang asing—semua itu adalah “bisikan” kasih Tuhan yang lembut.

“Kasih setia-Nya tidak pernah habis, selalu baru setiap pagi.” (Ratapan 3:22-23).

3. Mengasah “Mata Iman” untuk Melihat yang Tak Terlihat

Mengapa kasih Tuhan sering tidak terlihat? Bukan karena Ia jauh, tapi karena “kebutaan” rohani kita yang terlalu fokus pada hasil akhir.

Penyertaan dalam Proses: Tuhan lebih tertarik pada siapa kita menjadi daripada sekadar apa yang kita dapatkan.

Kehadiran di Masa Sulit: Seperti jejak kaki di pasir, saat kita hanya melihat satu pasang jejak, di situlah Tuhan sebenarnya sedang menggendong kita.

Kasih-Nya nyata justru saat kita merasa paling lemah.

Kesimpulan Saudara sekalian, jangan biarkan pencarian kita akan hal-hal spektakuler membuat kita buta terhadap penyertaan Tuhan yang konsisten dalam keseharian. Kasih setia Tuhan (Ibrani: Hesed) adalah kasih yang berkomitmen.

Ia ada dalam secangkir kopi yang hangat, dalam kekuatan untuk memaafkan, dan dalam damai sejahtera yang melampaui akal saat badai hidup menerjang.

Mari kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa setiap detik hidup kita adalah bukti nyata bahwa Kasih-Nya tidak pernah meninggalkan kita.

Amin.